SAYA merasa prihatin terhadap pemerintah kita (siapapun presidennya) yang menyetujui PLTN. Cara berpikirnya pendek dan hanya memikirkan proyek dan komisi. Memanipulasi dan memperalat teori-teori nuklir yang sebenarnya menyesatkan.Tak belajar dari pengalaman Chernobyl. Tak melihat fakta-fakta yang ada sekarang tterjadi di negara-negara yang memiliki PLTN. Diperbudak teori nuklir aman yang sesungguhnya tidak ada jaminannya. Apalagi, kualitas SDM Indonesia rendah. Terutama menyangkut tanggung jawab. Seorang ilmuwan, seringkali terjebak pada kesimpulan yang keliru kalau tak memahami ilmu filsafat.
Banyak alternatif
Sebenarrnya Indonesia sangat kaya dengan sumber energi listrik.
-Pantai yang luas dan gunung yang tinggi merupakan sumber angin dan bisa dibangun jutaan menara pembangkit listrik tenaga angin.
-Gunung berapi jumlahnya sangat banyak dan bisa dijadikan pembangkit tenaga listrik tenaga panas bumi
-Banyak sungai arus deras yang bisa dibangun ratusan ribu kincir aiir untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik
-Indonesia yang terletak di garis katulistiwa cukup mmemiliki panas matahari sebagai sumber tenaga listrik tenaga surya.Bisa diproduksi ratusan juuta keping solar cell.
-Kalau krreatif, bisa menggunakan gelombang lau atau arus laut (misalnya Seelat Bali) untuk menggerakkan kincir aiir raksasa untuk menggerakkan turbin raksasa.
Kenapa harus PLTN?
katanya, PLTN lebih aman dan lebih murah.Dengan adanya PLTN, tarif listrik hampir tidak ada bedanya. Tidak bisa dikatakan lebih murah secara signifikan. Indonesia memang kaya akan uranium. Namun pembangunan PLTN sendiri merupakan proyek bernilai triliunan rupiah.
Adakah jaminan keamanan?
Tak ada teknologi yang sempurna. Amerika yang pengalaman membuat roket antariksa, toh meledak juga. Boleh saja mempekerjakan ttenaga ahli dari asing, tapi tentu orang Indonesia juga berperan.Lagipula, tenaga asing juga tak jaminan.
Siapa yang bertanggung jawab?
Jika aman seumur hidup sampai kiamat, tak apa-apa. Tapi itu mustahil. Kalau tterjadi kebocoran dan mematikan banyak orang, siapa yang bertanggung jawab? Bersediakan presiden dan wakil presiden mengundurkan diri? Tidak ada undang-undang yang mengatur pihak yang bertanggung jawab secara tegas. tanggung jawab pemerintgah terhadap kasuus Tragedi Trisakti,Semanggi I dan II dan Lumpur Lapindo juuga tidak pernah jelas Sejarah membuktikan kalau ada kasus besar, pemerintah tak pernah mau diisalahkan. Pengadilanpun selalu memenangkan pemerintah.
Mengurus kompor gas elpiji saja tidak becus
Masih ingat kasus-kasus meledaknya gas elpiji? Nah, mengurusi kompor gas elpiji saja tidak becus. Mengurusi BBM saja tidak becus. Mengelola sumber daya alam saja tidak becus. Apalagi nuklir yang potensi bahayanya sangat besar.
Fakta
Cobalah fakta yang ada sekarang. Isreal itu dengan seenaknya membuang samah nuklirnya di dataran Golan. Inggeris membuang sampah nuklirnya di luar negaranya sendiri (dirahasiakan). Semua negara pemilik PLTN kebingungan harus dibuang ke mana sampah-sampah nuklirnya, termasuk Amerika dan Rusia.
Dunia kebingungan membuang sampah nuklir
http://www.suaramerdeka.com/harian/0401/06/int5.htm
Negara yang sudah menerapkan PLTN-pun kebingungan ke mana sampah nuklirnya. Andaikan di simpan di dalam tanah, butuh seberapa luas? lama-lama, tanah penuh dengan sampah nuklir. Sampah nuklir walaupun disimpan di dalam tanah, namun masih mempunyai sifat radio aktifnya selama 1.000 tahun. Tempat penyimpanannya juga membuutuhkan biaya luar biasa besar.
Biaya penyimpanan yang sangat besar
ANDRA adalah lembaga pengelola sampah nuklir di Prancis, yang juga PLTN terbesar di Uni Eropa.”Bisa kami katakan, perlu 15 miliar sampai 25 miliar euro untuk membangun sebuah saja gudang penyimpanan, mengoperasikanya, dan menutup segala fasilitas yang ada,” katanya.
Bagaimana kasus kebocoran reaktor nuklir di Jepang?
Katakanlah, Jepang merupakan bangsa yang cerdas. Namun kenyataannya, reaktor nuklirnyapun bocor, terutama akibat gempa dengan kekuatan 8,9 SR (yang benar 9 SR). Badan Keamanan Nuklir Jepang memastikan tidak ada peluang terciptanya kecelakaan seperti Chernobyl di reaktor nuklir Fukushima No 1. Menurut Menteri Strategi Nasional, Senin (14/3), sebagaimana dikutip Jiji Press, Menteri Koichiro Genba memberikan pernyataan tersebut mengutip Badan Keamanan Industri dan Nuklir dalam sebuah pertemuan dengan partai pemerintah, Partai Demokratik Jepang. (Ant/OL-12)
Bagaimana kasus kebocoran reaktor nuklir Chernobyl?
Reaktor nuklir Chernobyl bocor dan meledak, bukan karena gempa ataupun tsunami. Tetapi karena faktor SDM. Pada Chernobyl semua prosedur standar keamanan operasi reaktor dilanggar.
Siapakah para operator PLTN itu?
Apakah mereka para pakar nuklir? Tidak! Apakah mereka para ilmuwan nuklir? Tidak? Para operator PLTN adalah para karyawan PLTN yang dianggap memenuhi syarat dan mendapatkan pelatihan khusus. Tugas mereka berhubungan dengan sistem dan prosedur mengaftifkan reaktor, menonaktifkan reaktor atau pengendalian PLTN. Termasuk sistem dan prosedur pengamanan. Tugas mereka boleh dikatakan Cuma tekan tombol iini tekan tombol itu.
Anomali sistem
atu hal yang sering dilupakan orang, bahwa tidak ada sistem buatan manusia yang sempurna. Pada saat-saat tertentu akan teradi anomali pada sub-sub siste, , terutama faktor manusianya.
Human error
Mungkin, suatu saat terjadi sedikit anomali sistem, ada kelainan proses, ada salah perhitungan, ada salah sistem dan prosedur, ada salah tekan tombol dan faktor human error lainnya. Maka bisa saja terjadi kebocoran dan ledakan nuklir di PLTN Indonesia walaupun PLTN itu berada di daerah bebas gempa dan tsunami.
Kesimpulan
Bisa saya tarik kesimpulan bahwa kebijakan untuk mendirikan PLTN merupakan filsafat energi yang sesat. Para pengambil keputusan cara berpikirnya pendek.
Solusi
1.Optimalkan semua sumber daya energi yang ada : angin, panas bumi, matahari, air terjun, arus deras sungai bahkan arus laut.
2.Kalau tetap “ngotot” membangun PLTN, maka radius 50km dari PLTN harus dinyatakan sebagai “zero people”. Tidak boleh dihuni penduduknya. Harus direlokasi ke tempat yang aman.
3.Buat undang-undang yang jelas dan rinci tentang pihak yang paling bertanggung jawab dan bentuk tanggung jawabnya.
Sumber : Dari berbagai sumber
Sumber foto: greencarresmata.blogspot.com
Hariyanto Imadha
Blogger

















Maaf mas, saya mau mengomentari artikel anda ini.
Menurut saya pendapat anda sangat subjektif. Saya rasa anda kurang memahami teknologi ini. Itu hak anda untuk menolak energi ini, tapi apa anda juga bisa memikirkan alternatif energi untuk jangka panjang?
Kita bisa saja hidup dengan kondisi seperti sekarang, semuanya memakai energi fosil. Akibatnya pemanasan global pun membuat bumi ini rusak.
Anda harus tau 1 hal mas, teknologi nuklir sama sekali bersih dan bebas emisi greenhous gas. Permasalahannya bukan dari teknologinya, mungkin anda sedikit benar kalau mempermasalahkan SDM nya.
Tapi perlu anda ketahui, banyak SDM2 indonesia yang bekerja di Perancis dan Amerika dan mengelola PLTN ini dengan baik. Mereka adalah lulusan2 PTN ternama di negeri ini. Mereka tidak punya kesempatan untuk mengaplikasikan ilmunya karena penolakan2 dari orang2 seperti anda.
Saya setuju kalau perlu dilakukan peninjauan kembali ttg energi ini. Tapi bukan berarti kita tutup mata dan menolaknya. Teknologi ini memang sangat membantu kita untuk kelangsungan kebutuhan energi manusia. Indonesia memiliki cadangan Uranium yang sangat melimpah dan bisa diandalkan untuk jangka waktu lebih dari 1000 tahun. Coba anda bayangkan apa energi fosil yang kita pakai saat ini mampu menyediakan pasokan seperti itu?
Uranium banyak di Indonesia, harganya murah. kita ga perlu khawatir seperti lonjakan harga minyak dunia yg seperti saat ini mempengaruhi semua roda perekonomian. Coba anda bayangkan jika sumber2 Uranium kita nantinya diambil Amerika yang serius dalam pemanfaatan energi ini?
Kalau sudah begitu kita hanya bisa demo, protes, buat gerakan anti-amerika, dsb. Padahal kebodohan dan kebebalan kita yg membuat kita tertinggal.
Indonesia adalah negara yang kaya dengan SDM2 berkualitas. Hanya saja kita perlu mendidik SDM2 ini agar tidak hanya pintar, tetapi memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi dalam mengelola PLTN.
Demikian sedikit yang bisa saya sampaikan, semoga dapat memberi informasi tambahan buat mas…
TANGGAPAN:
Artikel saya tersebut jelas artikel filsafat. Tampak sekali komentar Anda mencerminkan Anda tidak faham atau masih awam dengan ilmu filsafat. Ilmu filsafat adalah ilmu yang mempelajari alur-alur pemikiran yang benar dan salah. Dan banyak sarjana yang punya pendapat yang ngawur tentang ilmu ini.
Justru pendapat Anda yang subjektif karena hanya melihat masalah hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran yang samasekali tidak ada nilai filosofisnya. Artinya, Anda hanya melihat satu sisi saja : aman. Tetapi Anda tidak melihat sisi lain : tidak aman. Ibarat mata, mata Anda hanya melihat satu mata saja, sedangkan mata sebelah Anda buta. Itulah cara Anda berpikir.
Kalau Anda punya Tuhan, tentu faham bahwa hanya ciptaan Tuhan yang sempurna. Ciptaan manusia tidak ada yang 100 sempurna. Jadi, cara berfilsafat yang benar yaitu PLTN ada dua siisi, yaitu sisi dan sisi tidak aman. kalau aman tidak masalah, tetapi apa jaminannya. kalau tidak aman siapa yang tanggung jawab.
Lihatlah, Inggeris sudah kerepotan mengelola PLTN dan mulai beralih ke tenaga listrik lainnya, antara lain merintis pembangkit listrik tenaga kelombang. Lihatlah Israel, membuang sampah nuklir di sebuah gurun milik negr lain. Lihatlah peristiwa PLTN Jepang yang konon dikelola oleh para pakar nuklir. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Cobalah belajar ilmu filsaft supaya car berpikir Anda tidak sesempit itu. jangan melihat persoalan hanya menggunakan satu bola mata sedangkan bola mata lainnya buta. masih banyak alternatif lain selain nuklir, antara lain listrik tenag gelombang laut,dll.
kalau Anda punya Tuhan, percayalah, hanya ciptaan Tuhan yang sempurna. Ciptaan manusia tidak ada jaminannya. Sempurna versi manuusia bukanlah sempurna dalam arti mutlak. Itulah cara berpikir dan car berfilsafat yang benar. Negeri Indonesia sekarang ini terpuruk karena dikelola oleh manusia-manusia yang cara berpikirnya seperti Anda. Terasa sekali, Anda sangat awam dalam dunia ilmu filsafat.
Kesimpulan:
1.PLTN aman karena berdasarkan asumsi A,B,C (rasional)
2.PLTN tidak aman karena faktor X yang tidak terjangkau otak manusia (termasuk otak Anda).
3.Hanya ciptaan Tuhan yang sempurna.
4.Kesempurnaan ciptaan manusia hanya bersifat sementara.
Hariyanto Imadha
Eksma fakultas filsafat
http://ffugm.wordpress.com